BANTUL, VIVA Jogja  – The case of watering hard water against an activist in Bantul sparked deep concern from Bentala Indra Nusantara Advocate (BINA). This advocate organization considers the event not just a criminal act, but a serious threat to civil liberties and the quality of democracy in Indonesia. BINA's Secretary-General, Chetta Shatia Dwitama, asserted that the attacks on activists were a systematic attempt to silence critical voices that the state should be protecting. “This is no ordinary crime, this is an attack on democracy. The state should not be silent," he said when met in Bantul, Wednesday (08/04/2026). Chetta added, the alleged involvement of state officials in this case made it a crisis of institutional accountability. According to him, this is a strong alarm for the rule of law in Indonesia. "There should be no tolerance for abuse of power," he stressed. Legally, BINA admitted that the handling of cases through military justice had a legitimate basis, referring to Law Number 31 of 1997 concerning Military Justice. However, the mechanism is considered to have minimal public supervision if the community does not actively follow its development. Chetta emphasized that the principle of legal subjects should be the main reference. This means that civilians who litigate with TNI members remain on trial in the general court, while TNI individuals who commit criminal acts are processed through Puspom and Military Courts. Read more at: https://jogja.viva.co. id/warta/8295-attack-water-hard-mirror-crisis-accountability-stateBy: Fuska Sani Evani


Komentar (1)

dhankthea 02 Jul 2026 10:21

Tetap Semangat....

1000 Karakter tersisa

Related Articles

Related

Mengenal Nyadran dan Hubungannya dengan Kesadaran Kolektif

Nyadran, sebuah tradisi yang selama ini kita pahami sebagai warisan budaya, mungkin juga dapat menawarkan titik acuan bagi kita untuk membayangkan bagaimana respons kolektif terhadap perubahan iklim dapat dibangun.

Read More

Related

Beyond Self-Interest: Gandeng-Gendong and the Social Logic of Reciprocity

Pesanan makanan dalam jumlah besar biasanya menjadi kabar baik bagi produsen skala kecil. Itu berarti tambahan penghasilan, peningkatan pekerjaan, pelanggan baru, dan—jika berjalan lancar—peluang untuk mengembangkan usaha yang umumnya hanya beroperasi di pasar sekitar lingkungan rumah. Respons intuitifnya tampak sederhana: ambil peluang tersebut, penuhi pesanan sebanyak mungkin, dan dapatkan keuntungan ekonominya. Bahkan ketika kapasitas produksi tidak mencukupi, solusi bisnis konvensional adalah menambah tenaga kerja, mengoper sebagian pekerjaan (subcontract), atau mencari pengaturan lain yang tetap memungkinkan produsen awal mengantongi sebagian nilai tambah dari pesanan tersebut.

Read More

Related

Gufron Rum : PBNU Perlu Memperkuat Tata Kelola Sosial dari Tingkat Mikro di Era Multiketidakpastian

Menghangatnya kontestasi kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar tidak hanya perlu dipandang sebagai pergantian figur Ketua Umum. Momentum tersebut menjadi ruang penting untuk membicarakan kembali tantangan organisasi NU dalam merespons perubahan sosial yang makin kompleks—mulai dari fragmentasi masyarakat, tekanan ekonomi, perkembangan teknologi, krisis lingkungan, hingga meningkatnya ketidakpastian global.

Read More