
Lambang Yayasan Bentala Indra Nusantara (BINA) merupakan artikulasi visual dari orientasi nilai, cara pandang, serta arah gerak transformasi yayasan dalam merespons dinamika kehidupan di Nusantara. Komposisi warna biru dan hijau menjadi fondasi simbolik yang merepresentasikan kesatuan relasi antara manusia, alam, dan peradaban. Biru menghadirkan makna samudera sebagai ruang kedaulatan, konektivitas, serta jalur perjumpaan antarkebudayaan, sementara hijau menandakan daratan sebagai ruang tumbuh, keberlanjutan ekologis, dan regenerasi kehidupan. Perpaduan keduanya menegaskan pijakan yayasan pada falsafah bumi pertiwi sebagai landasan etis sekaligus praksis.
Secara konseptual, nama Bentala Indra Nusantara membentuk konstruksi makna yang saling menguatkan. Bentala merepresentasikan bumi sebagai ruang material sekaligus simbol keberakaran eksistensial. Indra menunjuk pada pancaindra sebagai perangkat epistemik manusia dalam mengenali, merasakan, dan menafsirkan realitas secara utuh. Nusantara mencerminkan kesatuan geografis dan kultural kepulauan Indonesia sebagai ruang hidup kolektif yang kaya akan keberagaman. Keseluruhan konstruksi ini menggambarkan BINA sebagai entitas yang berakar pada bumi, memiliki kepekaan dalam membaca perubahan, serta berorientasi pada penguatan ruang hidup Nusantara secara menyeluruh.
Struktur visual utama berupa empat bidang lengkung berlapis berwarna biru membentuk pola menyerupai bunga yang tersusun simetris dan saling terhubung. Lapisan garis-garis paralel di dalamnya menghadirkan kesan ritmis sekaligus sistematis, yang mencerminkan proses kerja yang berkelanjutan, terstruktur, dan terakumulasi. Pola yang saling mengait membangun imaji jaringan yang dinamis, di mana setiap elemen berkontribusi dalam satu kesatuan gerak kolektif. Representasi ini memperkuat makna kolaborasi sebagai prinsip kerja utama, yang terwujud dalam relasi antarpihak, integrasi program, serta kesinambungan antarproses.
Di bagian pusat, empat daun berwarna hijau tersusun membentuk komposisi simetris yang menjadi titik fokus visual. Elemen ini melambangkan vitalitas kehidupan, kesuburan, serta kekayaan hayati Nusantara. Posisi sentralnya menegaskan bahwa keberlanjutan ekologis dan harmoni dengan alam menjadi inti orientasi yayasan. Bentuk daun yang mengarah ke empat penjuru memberikan makna keterbukaan terhadap berbagai arah perkembangan, sekaligus mencerminkan keseimbangan dalam menjangkau spektrum wilayah, gagasan, dan praktik kolaboratif.
Lingkaran luar yang mengelilingi keseluruhan elemen memuat nama yayasan sebagai penanda identitas kolektif. Bentuk melingkar menghadirkan makna kontinuitas, siklus pembaruan, serta kesinambungan gerak dalam jangka panjang. Dua ikon daun kecil yang menjadi pemisah teks memperkuat simbol keterhubungan antara identitas kelembagaan dengan prinsip kelestarian ruang hidup, sehingga setiap langkah strategis senantiasa terikat dengan tanggung jawab ekologis dan sosial.
Secara filosofis, lambang ini menggambarkan orientasi transformasi yang berangkat dari kekayaan bentang alam, kultur, dan masyarakatnya sebagai khazanah Nusantara. Potensi tersebut diolah menjadi daya dorong untuk menghadirkan tatanan yang lebih adil, inklusif, dan beradab. Nilai-nilai Pancasila hadir sebagai fondasi normatif yang hidup dalam praksis organisasi, terinternalisasi dalam setiap program, serta terhubung dengan dinamika zaman dan generasi penerus bangsa.
Dengan demikian, lambang BINA menghadirkan kesatuan makna antara akar, kepekaan, dan gerak. Ia merepresentasikan organisasi yang berpijak kuat pada bumi, memiliki kemampuan membaca realitas secara jernih, serta menggerakkan transformasi menuju masa depan Nusantara yang berkelanjutan, berkeadilan, dan beradab.